Ditulis oleh : Fadilatul Afifah, Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
![]() |
Jane-Austen-Cassandra-engraving-portrait-1810 |
Sebagai manusia yang hidup zaman ini, menyembunyikan jati diri sebagai perempuan merupakan suatu hal yang sudah biasa dilakukan.
Jane Austen adalah satu - satunya suara yang menghendaki hampir himpun sastra.
Dilahirkan pada 16 Desember 1775, Austen adalah seorang penulis dari Inggris. Karyanya yang sudah menjadi sejarah memaparkan tentang politik, sosial, moral, dan romantis. Austen memikirkan nama karyanya sebagai bentuk yang sangat inisiatif.
Ternyata, realita pahit pada abad ke18 di mana penulis perempuan lebih sering diabaikan dan kurang dihargai.
Pendapatnya bertentangan dari adat-adat zaman itu, hanya sebentar untuk dapat mendengar suara bagi perempuan bahkan tidak sama sekali.
Aktivitas menulis dianggap sebagai lapangan pekerjaan yang biasa, sedangkan perempuan penulis kadangkala diumpat bagi mata salah seorang sejarawan.
Dengan mengabaikan nama aslinya Austen menuntut hukuman yang adil dari segala sangkut paut dan celaan.
Alasan pertama Jane Austen memilih sebagai anonimitas agar memberi kebebasan dalam mengekplorasi tema-tema yang diinginkannya.
Novelnya sering membawa kritik sosial yang tajam, termasuk di antaranya masalah perjodohan tanpa cinta.
Jika menerbitkan karyanya atas nama dirisendiri, ia tentu mendapat tekanan sosial dan kritik yang dapat membungkam saluran suaranya.
Yang kedua, Jane Austan sangat menjaga privasinya. Dia cenderung tidak menyukai hidup di bidang panas atau sorotan publik, ia lebih suka hidup tenang di pedesaan.
Anonimitas adalah cara menjalani hidup yang dia inginkan. Maka, karya Jane tetap diterima baik oleh kritikus maupun pembaca. Ketika dia mati pada tahun 1817, barulah identitas ini diungkapkan kepada dunia.
Karya-karyanya yang tidak pernah bosan dibaca sudah mulai diadaptasi ke berbagai jenis media, termasuk secara film dan televisi.
Dan Jane Austen telah memberikan banyak wanita untuk berperang memperoleh haknya dan itulah mimpi mereka.
Keputusan untuk menerbitkan secara anonim adalah lambang perlawanan terhadap ketidakadilan yang melanda para wanita penulis waktu itu.
Dibalik penyamarannya, ada kekuatan dan bakat yang tak bias di asetkan dan akan terus memberi jejak di dunia tulis.
Warisan dari Jane Austen itu tidak berhenti dalam hal karya - karyanya saja. Pilihannya untuk tetap menyembunikan identitasnya di tengah tata sosial yang menghambat suara wanita adalah sebuah pernyataan keberanian yang luar biasa.
Semua novel Austen menyuguhkan kisah yang memiliki pandangan yang cukup relevan dan menceritakan situasi sosial, psikologis perempuan Inggris dari abad kedelapan belas.
Ia dengan cara itu tak hanya menggambarkan kehidupan yang keras dan penuh tantangan, tetapi juga membawa cerita kehidupan yang sangat tahan akan waktu, struktur yang bagus dalam kenangan dan karakter.
“Pride and Prejudice" sempat membuat para pembacanya lekat dengan setiap kalangan kelas dari yang miskin sampai yang terkaya.
Karya ini menaklukkan zaman dan masih relevan hingga sekarang. Penulisan Jane Austen sangat indah, hal ini membuatnya senantiasa menjadi abadi dan perpaduan lukisan yang indah ini juga telah menjebatani ke bahasa-bahasa lain, sebagai contoh oleh C. L. Levi dan Maria Zuo Caryun Sue.
Karya klasik dari dua penulis besar ini adalah terjemahan dari karya Austen tersebut. Beliau membuktikan bakat serta kecakapan dalam penulisan tidak sebuah hal gampang dan begitu saja meski zaman terus berganti seni sastra akan tetap dipelihara.
Sehingga, Jane Austen telah membuktikan dirinya sebagai cermin kehidupan abadi yang telah merekam masa lalu dan masa yang akan datang dengan keindahan yang mendalaman.
Karyanya akan selalu mengambil bentuk baru dan penemuan dalam tikaman arus waktu, dan menyuarakan dirinya dalam dunia sastra. (**/)
Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih