Tulak Bala di Minangkabau

0

Oleh : Alfatih Putri

Foto by.google


Tulak bala adalah sebuah istilah dalam budaya dan kepercayaan masyarakat yang merujuk pada upaya menolak atau menghindarkan diri dari berbagai musibah, bencana dan marabahaya. 


Konsep ini banyak ditemukan dalam tradisi masyarakat Nusantara, termasuk dalam budaya Minangkabau, Jawa, Melayu dan lainnya. 


Tulak bala sering dilakukan melalui doa, ritual atau tindakan tertentu yang diyakini dapat memberikan perlindungan dari hal-hal buruk.


Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang tulak bala, mulai dari pengertiannya, makna filosofis hingga berbagai bentuk praktiknya dalam kehidupan masyarakat.


Pengertian Tulak Bala


Tulak bala berasal dari dua kata, yaitu “tulak” yang berarti tolak, menolak atau menghindarkan, dan “bala” yang berarti bencana atau musibah. 


Secara sederhana, tulak bala berarti upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai bahaya yang bisa menimpa individu maupun masyarakat.


Konsep ini tidak hanya dikenal dalam budaya indonesia, tetapi juga dalam berbagai kepercayaan dan agama di dunia. Dalam islam, tulak bala sering dikaitkan dengan doa, sedekah, dan amal kebaikan. Sementara dalam budaya lokal, praktik ini bisa berupa ritual adat yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat.  


Makna Filosofis Tulak Bala


Tulak bala bukan sekadar usaha menghindari bahaya, tetapi juga memiliki nilai-nilai mendalam yang mencerminkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Beberapa makna filosofis dari tulak bala antara lain :  


1. Kesadaran akan Keterbatasan Manusia 


Manusia tidak dapat mengendalikan segala hal dalam hidupnya. Dengan melakukan tulak bala, seseorang menyadari bahwa ada kekuatan yang lebih besar, sehingga perlu berserah diri dan berusaha secara spiritual maupun sosial untuk menghindari marabahaya. 

 

2. Peningkatan Ketakwaan


Dalam banyak ajaran agama, tulak bala dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, seperti dengan berdoa dan bersedekah. Hal ini memperkuat iman dan kesadaran spiritual seseorang.  


3. Mempererat Hubungan Sosial


Tradisi tulak bala sering dilakukan secara bersama-sama dalam masyarakat, misalnya dengan mengadakan doa bersama, kenduri, atau gotong royong. Ini memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial. 

 

4. Harmoni dengan Alam


Dalam beberapa budaya, tulak bala juga mencerminkan hubungan harmonis dengan alam, misalnya dengan menjaga keseimbangan ekosistem atau melakukan ritual tertentu untuk menghormati alam. 


Bentuk-Bentuk Tulak Bala dalam Masyarakat


Tulak bala dilakukan dalam berbagai bentuk, tergantung pada budaya, agama, dan kepercayaan masing-masing kelompok masyarakat. Berikut beberapa bentuk umum tulak bala :  


1. Doa dan Dzikir 


Dalam Islam, doa adalah salah satu cara utama untuk menolak bala. Beberapa doa khusus diyakini dapat memberikan perlindungan dari bahaya, seperti :  


- Doa Tolak Bala: "Allahumma inni a'udzubika minal barasi, wal jununi, wal juzami, wa min sayyi'il asqam" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, kegilaan, kusta, dan berbagai penyakit buruk lainnya).  


- Membaca Ayat Kursi: Ayat Kursi dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 255) diyakini memiliki kekuatan perlindungan.  


- Dzikir dan Salawat: Mengucapkan dzikir seperti "Hasbunallah wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah sebagai pelindung) juga sering diamalkan sebagai bentuk tulak bala.  


2. Sedekah dan Kegiatan Sosial 


Sedekah merupakan salah satu bentuk ibadah yang diyakini dapat menolak bala. Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan:  


"Sedekah dapat menolak 70 macam bala dan bencana, yang paling ringan adalah penyakit kusta dan lepra." (HR. Thabrani)  


Selain sedekah, kegiatan sosial seperti membantu sesama, bergotong royong, dan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan juga dipercaya sebagai cara menolak bala.  


3. Ritual Adat dan Budaya 


Di berbagai daerah di Indonesia, ada tradisi khusus yang dilakukan sebagai bagian dari tulak bala, antara lain :  


- Minangkabau: Di Minangkabau, terdapat ritual makan bajamba atau kenduri sebagai bentuk permohonan perlindungan dari musibah.  


- Jawa: Tradisi "Ruwatan" dilakukan untuk membersihkan diri dari kesialan dan marabahaya.  


- Melayu: Upacara "Tolak Bala" sering diadakan dalam bentuk doa bersama, penyembelihan hewan, atau pembacaan surah Yasin secara kolektif.  


- Bali: Tradisi "Melukat" adalah ritual penyucian diri dengan air suci yang dipercaya dapat membersihkan energi negatif dan menolak bala.

  

4. Menjaga Kesehatan dan Kebersihan

 

Dalam konteks modern, tulak bala juga dapat diartikan sebagai tindakan preventif, seperti  :  


- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan: Menghindari penyakit dengan menjaga sanitasi dan kebersihan rumah.  


- Mengonsumsi makanan sehat: Makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.  


- Menghindari hal-hal berisiko: Seperti menghindari tempat-tempat berbahaya atau menjauhi perbuatan yang dapat menimbulkan bencana.  


Tulak Bala dalam Konteks Modern


Di era modern, konsep tulak bala tetap relevan, meskipun bentuknya mengalami perubahan. Beberapa contoh penerapannya antara lain :  


1. Meningkatkan Kesadaran Akan Kesehatan  


Pandemi COVID-19 mengajarkan kita pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan sebagai bentuk perlindungan dari penyakit. Ini bisa dianggap sebagai bagian dari tulak bala dalam konteks medis. 

 

2. Penggunaan Teknologi untuk Perlindungan


   Aplikasi peringatan bencana, sistem mitigasi gempa, dan teknologi kesehatan adalah bentuk modern dari usaha manusia dalam menolak bala secara ilmiah.  


3. Kesadaran Sosial dan Lingkungan


Gerakan sosial seperti penghijauan, pengelolaan sampah, dan energi terbarukan juga bisa dianggap sebagai usaha menolak bala dari dampak negatif lingkungan.  


Dapat kita simpulkan bahwa Tulak bala adalah konsep yang telah lama berkembang dalam budaya masyarakat dan masih relevan hingga saat ini. Baik dalam bentuk spiritual, sosial, maupun tindakan nyata, usaha menolak bala mencerminkan kesadaran manusia akan pentingnya perlindungan, ketakwaan, dan kepedulian terhadap sesama.  


Dengan memadukan tradisi dan pendekatan modern, kita dapat terus menjaga keseimbangan hidup dan berusaha menghindari musibah dengan cara yang bijak dan bertanggung jawab.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top